Liburan disaat yang lain sudah gak libur :)
Liburan sekolah Akhdan sudah dimulai dari tanggal 23 Desember s/d 7 Januari 2018, tapi kenapa liburannya setelah Akhdan masuk sekolah?
Liburan sekolah Akhdan sudah dimulai dari tanggal 23 Desember s/d 7 Januari 2018, tapi kenapa liburannya setelah Akhdan masuk sekolah?
Pertama, kami memang selalu memilih liburan disaat masa liburan sudah selesai. Alasannya karena semua tempat wisata sudah sepi, jadi kita bisa lebih nyaman. Tapi tentunya waktu yang dipilih adalah waktu yang tepat, biasanya disaat akhdan selesai ujian menunggu pengambilan raport atau minggu pertama masuk sekolah karena pada saat itu anak-anak belajarnya belum full. Seperti sekarang ini bunda dapat info dari wali kelas kalau anak-anak selama 2 minggu pertama masuk sekolah belajarnya tidak full karena lagi mempersiapkan acara Pentas Seni Sekolah.
Alasan kedua, di bulan Desember ayah sulit untuk mendapatkan cuti karena pemberian cuti bulan desember diprioritaskan untuk teman-teman yang non muslim. Wong tanggal 30 Desember aja disuruh lembur, gimana mau liburan.
Alasan kedua, di bulan Desember ayah sulit untuk mendapatkan cuti karena pemberian cuti bulan desember diprioritaskan untuk teman-teman yang non muslim. Wong tanggal 30 Desember aja disuruh lembur, gimana mau liburan.
Awal tahun 2018 ini, kita memutuskan untuk travelling ke Bangkok. Kenapa pilihannya Bangkok? Alasannya udah bisa ditebaklah tiket promo yang ada tinggal tujuan Bangkok.. hehehe... Namanya juga budget traveller, harga tiket pesawat menjadi salah satu petimbangan kita merencanakan liburan. Kebetulan anak-anak juga belum pernah kesana, walaupun ayah bunda sudah pernah ke Bangkok dan Phuket sebelumnya tapi masih banyak spot wisata menarik yang belum kita jelajahi. Selain itu, kesuksesan travelling tanpa tour with kiddos yang kita lakukan di Malaysia dan Singapura membuat kita makin pede membawa anak-anak ke negara berikutnya. Itung-itung menambah pengalaman kita sebelum pergi ke negara yang jam terbangnya lebih lama. Amiiinnn...
Persiapan adalah kunci kesuksesan. Hal inilah yang selalu kami aplikasikan di setiap perjalanan kami. Tiket pesawat done, PR selanjutnya adalah booking hotel, booking tiket wahana di obyek wisata dan membuat itinerary perjalanan lengkap yang semua itu telah rutin menjadi tugas saya di setiap travelling kami sementara suami mendapat jatah bertugas sebagai eksekutor dan pembawa beban berat. hehehe...
Dalam membuat itinerary ini sebenarnya gampang-gampang susah, tetapi kalau kita sudah kuasai peta daerah yang akan kita kunjungi dan rute alat transportasinya maka hal ini akan menjadi lebih mudah. Itinerary sangat membantu kami untuk menentukan lokasi yang cocok dan strategis dimana kita menginap karena telah disesuaikan dengan jadwal perjalanan sehingga gak ada cerita kita menginap di wilayah Utara terus tempat wisatanya ada di Selatan yang nantinya akan boros di biaya dan waktu apalagi Bangkok sekarang sudah terkenal dengan kemacetannya yang hampir mirip dengan Jakarta. Dengan adanya itinerary juga membantu kami menentukan tempat makan halal yang akan kita coba karena dari itinerary sudah jelas kalau jam makan siang dihari pertama misalnya kita lagi berada didaerah A sehingga kita sudah punya referensi tempat makan di lokasi terdekat berhubung negara yang kita kunjungi kali ini adalah negara minoritas muslim maka mencari makanan halal pasti menjadi tantangan tersendiri buat kita.
O,iya..
selain mencari info makanan halal saya juga menginstal aplikasi
Thailand Muslim Friendly. Aplikasi ini menyediakan panduan bagi
wisatawan muslim untuk menemukan mesjid, arah kiblat, restoran halal,
hotel, pusat perbelanjaan dan fasilitas lainnya. Satu lagi yang penting
dan sangat membantu adalah membawa bekal rendang buat antisipasi
disaat
kepepet atau makanan yang tersedia tidak sesuai dengan lidah kita. Persiapan adalah kunci kesuksesan. Hal inilah yang selalu kami aplikasikan di setiap perjalanan kami. Tiket pesawat done, PR selanjutnya adalah booking hotel, booking tiket wahana di obyek wisata dan membuat itinerary perjalanan lengkap yang semua itu telah rutin menjadi tugas saya di setiap travelling kami sementara suami mendapat jatah bertugas sebagai eksekutor dan pembawa beban berat. hehehe...
Dalam membuat itinerary ini sebenarnya gampang-gampang susah, tetapi kalau kita sudah kuasai peta daerah yang akan kita kunjungi dan rute alat transportasinya maka hal ini akan menjadi lebih mudah. Itinerary sangat membantu kami untuk menentukan lokasi yang cocok dan strategis dimana kita menginap karena telah disesuaikan dengan jadwal perjalanan sehingga gak ada cerita kita menginap di wilayah Utara terus tempat wisatanya ada di Selatan yang nantinya akan boros di biaya dan waktu apalagi Bangkok sekarang sudah terkenal dengan kemacetannya yang hampir mirip dengan Jakarta. Dengan adanya itinerary juga membantu kami menentukan tempat makan halal yang akan kita coba karena dari itinerary sudah jelas kalau jam makan siang dihari pertama misalnya kita lagi berada didaerah A sehingga kita sudah punya referensi tempat makan di lokasi terdekat berhubung negara yang kita kunjungi kali ini adalah negara minoritas muslim maka mencari makanan halal pasti menjadi tantangan tersendiri buat kita.
Tapi, walau sudah menyusun itinerary lengkap, Kami tetap fleksibel loh apabila terjadi perubahan destinasi maupun waktu yang dikarenakan beberapa faktor yang mungkin terjadi, misalnya anak-anak kelelahan, faktor cuaca, dan lain-lain.
Perjalanan trip Bangkok dan Pattaya kami rencanakan selama 6 hari 5 malam (6D5N) dengan rincian 5 malam di Bangkok dan 1 malam di Pattaya. Dengan kurs 1 Bath saat itu = Rp. 419.
Day 1
Setelah packing di hari sebelumnya, jam 8 pagi kita berangkat menuju Bandar Udara Kuala Namu dengan naik taksi online, penerbangan dari Medan ke Bangkok ini kami menggunakan pesawat Airasia QZ 154 pada pukul 10.10 dan estimasi sampai di Bangkok pukul 12.10 (tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Medan), sayangnya pesawat kita delay selama 1 jam-an sehingga kita mendarat di Bangkok sudah hampir pukul setengah 2. Di Bangkok terdapat 2 bandara Internasional, yaitu Suvarnabhumi dan Don Moeang. Untuk Air Asia otomatis akan mendarat di Bandara Don Moeang, namun pertama kali kita ke Bangkok itu mendarat di Suvarnabhumi, dan bandara Suvarnabhumi jauh lebih bagus dan lebih modern.
Turun dari pesawat, antri di imigrasi. Saya lihat ada antrian khusus
untuk diplomat, orang lanjut usia dan orang tua yang membawa bayi.
Menarik sekali, mengingat jalur normal bisa sepanjang 20-50 orang. Di Kuala Namu gak ada yang begini nih.. Alhamdulillah proses imigrasi berjalan lancar tanpa ada satu pertanyaan dari petugas. Sebelum keluar dari bandara kita mampir dulu ke tempat penjualan sim card buat ganti sim card dengan sim card thailand supaya mobile data di hp bisa tetap on untuk searching data dan penggunaan GPS serta google maps atau mau pesan grab selama di Bangkok. Tempat jual sim cardnya persis ada di depan pintu keluar kedatangan, menurut info yang saya baca ada di gate 5 dan gate 6 tetapi ketika kita masih di gate 3 sudah banyak deretan counter sim card. Saya membeli sim card di counter AIS dengan harga 190 Bath sudah mendapatkan paket 7 hari unlimited data plus ada saldo telepon tapi saya lupa berapa jumahnya, nama paketnya Travel AIS Sim Card.
Berdasarkan itinerary yang udah dibuat tujuan pertama kita setiba di Bangkok adalah Chatucak weekend market, pertimbangannya karena Chatucak ini hanya dibuka pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu sedangkan kita sampai di Bangkok pada hari minggu dan pulang ke Medan hari Jumat pagi, maka saat inilah waktu yang tepat buat kita kesana.
Untuk mencapai Chatuchak dari Bandara Don Moeang kita bisa menggunakan taksi atau naik bus bandara dan turun di Mo Chit. Dari Mo Chit kita harus jalan kaki sekitar 5 menit untuk sampai di kompleks market. Kami lebih memilih naik bus bandara karena lebih hemat, tarifnya 30 Bath per orang. Pembayaran bisa dilakukan di dalam bus (seperti bus damri gitulah..) Awalnya saya berpikir bus bandaranya itu bagus, tapi ternyata ga jauh beda dengan Transportasi Moda Medan - Kuala Namu, malah masih lebih baik. Bus A1 ini mengangkut penumpang sampai over kapasitas, kita yang didalam bergerak aja susah karena udah berdesak-desakan.
Untuk mencapai Chatuchak dari Bandara Don Moeang kita bisa menggunakan taksi atau naik bus bandara dan turun di Mo Chit. Dari Mo Chit kita harus jalan kaki sekitar 5 menit untuk sampai di kompleks market. Kami lebih memilih naik bus bandara karena lebih hemat, tarifnya 30 Bath per orang. Pembayaran bisa dilakukan di dalam bus (seperti bus damri gitulah..) Awalnya saya berpikir bus bandaranya itu bagus, tapi ternyata ga jauh beda dengan Transportasi Moda Medan - Kuala Namu, malah masih lebih baik. Bus A1 ini mengangkut penumpang sampai over kapasitas, kita yang didalam bergerak aja susah karena udah berdesak-desakan.
Sesampainya di BTS Mo Chit, sang kernekpun teriak Mo Chit, Mo Chit, untuk mempersilahkan para penumpang turun. Pemberhentian bus ini hanya ada di dua tempat, pertama BTS Mo Chit dan yang kedua Terminal Bus Mo Chit yang jaraknya gak terlalu jauh dari BTS Mo Chit. Karna namanya sama, disinilah kebingungan dan ketidaktelitian saya bermula, udah jelas-jelas di Itinerary yang saya buat kita harus turun di BTS Mo Chit, tapi pas eksekusi saya malah bingung. Padahal suami udah nanya kita gak turun disini bund, tapi dengan sotoynya saya jawab, kayaknya pemberhentian satu lagi yah. Akhirnya kitapun turun di terminal bus Mo Chit, sesampainya disitu kita gak melihat tanda-tanda kehidupan chatucak.
Yaaaa, ternyata kita sudah salah tempat alias kesasar. Berarti kita harus balik lagi ke BTS, tapi gimana caranya? Kita mencoba bertanya kepada seseorang yang berpakaian seragam gimana caranya menuju chatucak, kelihatannya sih dia bertugas diterminal tersebut. Tentu saja komunikasi kita lakukan pakai bahasa Inggris, hasilnya dia menjawab panjang lebar pakai bahasa Thai. Jaka sembung bawa golok, gak nyambung kaleee. Coba bertanya lagi ke beberapa orang yang ada disitu dan hasilnya adalah sama. Setelah beberapa menit dalam kebingungan, petugas tadi mendatangi si ayah, dan dari bahasa tubuhnya kita tau kalau dia mau membawa si ayah ke pusat informasi. Nah, untungnya petugas di bagian informasi ini bisa berbahasa Inggris jadi solusi terpecahkan, petugas informasi menjelaskan ke petugas tadi dengan bahasa thai tentunya untuk membantu kita. Akhirnya dia mencarikan taksi untuk kita, dan menjelasan tujuan kita ke supir taxi tersebut.
Lesson learned: Usahakan jangan bertanya dalam bahasa Inggris sama penduduk pribumi Thailand. Dijamin balesannya panjang lebar pake bahasa Thailand. Trus yang ada kalian bingung sendiri mau menyudahinya dengan terima kasih atau langsung melipir jauh dan tak kembali lagi. You may try lah kalau udah ke sana, hehe. Kalau kata pepatah malu bertanya sesat di jalan, kalau di Thailand, banyak bertanya menyesatkan.
Alhamdulillah, enggak sampai 10 menit kita udah berada di chatucak. Tapiiii.... permasalahan berikutnya muncul karena ongkos taxi hanya 30 Bath sedangkan uang terkecil yang kita punya satuan 500 Bath, dan supir taxi tidak punya kembaliannya, maka kita harus mencari tukarannya. Selagi ayah mencari tukaran uang, si supir tetap menunggu di mobil, saya dan anak-anak menunggu di trotoar jalan. Tanpa sepengetahuan saya ternyata supir tersebut udah pergi, waktu ayah balik yang ada kita bingung kemana taxinya pergi. Mungkin dia udah kelamaan nunggu ayah dan karena nilainya juga gak material makanya dia langsung pergi ajaa.. Apapun itu, terima kasih pak supir semoga rezekimu bertambah.
Sesampainya di Chatuchak udah jam 2-an, anak-anak mulai resah. Akhirnya kita putuskan untuk mencari makan siang dan langsung check in hotel karena anak-anak kelihatan udah capek. Satu kegiatan tercoret dari itinerary,,, yaitu shopping..hiks... Padahal ini keinginan emaknya banget, tapi gak mungkin dipaksakan takutnya nanti anak-anak kelelahan malah sakit makin berabe jadinya. Paling enggak kita udah tau gambaran chatuchak itu seperti apa.
Kita makan siang di Saman Islam, karena rumah makan ini banyak direkomendasikan oleh para blogger untuk wisatawan muslim. Lokasinya ada di section 16, sebagai patokannya tinggal cari menara jam (clock tower) satu-satunya yang ada di kompleks ini. Section 16 ini tepat berada di depan clock tower, kemudian berjalanlah masuk ke lorong tersebut. Di sebelah kiri terdapat plang Saman Islam, disitulah restoran ini berada. Kalau masih bingung disebelah clock tower ada tourist information coba tanya aja disitu. Tempatnya seperti warung terbuka dan menu yang ditawarkan disini sangat beragam. Mulai dari Tom Yum, Buryane, Noodle Soup, Fried Rice, Bakso, hingga Manggo Sticky Rice tersedia di tempat ini. Untuk memudahkan memilih makanan, tersedia foto makanan dengan nomor urut, yang tinggal kita bilang saja mau pesan nomor berapa.
Menu yang kami pesan hanya 2 saja, karena menurut review yang ada porsi makanannya besar-besar, satu porsi bisa untuk 2 bahkan 3 orang. Suami pesan tom yum dan saya pesan Noodle Soup agar bisa dimakan anak-anak. Harga yang dibandrol untuk satu mangkuk noodle soup di Saman Islam adalah 150 THB. Agak mahal menurut saya tapi mengingat porsi yang diberikan luar biasa, dengan harga segitu masih bisa diterima akal.
Setelah makan siang kita langsung menuju hotel supaya anak-anak bisa istirahat. Untuk hari pertama ini kita memilih menginap di My Bed Ratchada Hotel dengan beberapa pertimbangan. Pertama : lokasi hotel ini hanya 50 meter dari stasiun MRT Lat Phrao (jadi gak perlu mengeluarkan ekstra tenaga untuk bawa-bawa koper dan kawan-kawannya), kedua : untuk menuju hotel kita dapat menggunakan sarana transportasi MRT yang telah terkoneksi dengan pasar chatuchak (coz kita geraknya dari pasar chatucak) dan jaraknya hanya beda 3 stasiun dari stasiun MRT Kampung Phaet yang ada di Chatuchak, ketiga : tujuan kita malam itu adalah Chocolate Ville, menurut informasi yang saya kumpulkan Chocolate Ville letaknya jauh dari pusat kota Bangkok dan tidak ada transportasi terdekat BTS Skytrain atau MRT Subway yang langsung menuju kesana, semua perjalanan harus menggunakan taxi. Kalaupun menggunakan taxi disarankan naik dari MRT Lat Phrao karena jaraknya tidak terlalu jauh.
Energi anak-anak uda direcharge, saatnya kita melanjutkan perjalanan. Untuk sampai ke Chocolate Ville kita menggunakan aplikasi grab taxi dengan tarif 278 Bath. Awalnya sempat ragu akan kendala bahasa seperti kejadian di terminal siang tadi, tapi bismillah ajalah. Untungnya setelah saya tekan menu order, supirnya langsung japri dengan bahasa Inggris kalau dia menunggu di jalan belakang hotel. Coba kalau supirnya komunikasi langsung via telpon, bisa-bisa terjadi lost in translation lagi.
Awal nya saya mikir tempat ini adalah tempat nongkrong / restauran / tempat makan yang dominan menu nya adalah COKLAT tapi ternyata sama sekali ga ada unsur coklatnya. Chocolate Ville ini konsepnya Dining In The Park bergaya Eropa, begitu pula semua restorannya rata-rata menyediakan menu ala western. Untuk harganya sendiri memang agak sedikit mahal tetapi sebandinglah dengan suasana yang kita dapatkan.
Apakah Chocolate Ville halal? Sepertinya tidak karena dalam daftar menu ada juga menu porknya. Tapi pas kita baru duduk, waitressnya langsung bilang no pork, no pork, dan menyerahkan menu vegetarian kepada kami, mungkin karena lihat saya pakai hijab kali ya.. Untuk lebih amannya kami hanya pesen air kelapa dan jus jeruk. Oh ya sebenarnya gak beli makanannya pun gak apa-apa. Cuma datang dan foto kemudian pergi lagi pun memungkinkan karena Chocolate Ville ini lumayan luas jadi tidak ada yang memperhatikan. Kecuali kalau sudah duduk di meja-mejanya pasti disamperin sama waiter/waitress nya.
Dari saat pertama masuk, kita merasa tidak sedang berada di Thailand. Ada banyak bangunan tematik disini, mulai dari Village Post Office, pom bensin, danau buatan, kincir angin, gudang anggur, gazebo, mobil kuno, mercusuar, jembatan, box telepon umum, rumah boneka, dan huruf-huruf yang bertuliskan LOVE. Semua sudut sangat fotogenik, sehingga bagi penggemar fotography atau pencinta selfie pasti akan sibuk mengabadikan gambar disini.
Untuk masuk ke chocolate ville ini tidak dipungut bayaran alias gratis, karena konsepnya adalah sebuah tempat makan. Kalau mau hemat gak pake acara makan ataupun minum kita bisa duduk di beberapa spot yang disediakan.
Waktu terbaik mengunjungi tempat ini adalah di atas jam 5 sore karena begitu lampu-lampu nya di nyalakan, nuansa romantisnya langsung berasa. Kita pulang sekitar jam 9 malam, lumayanlah dari jam 7 sampai jam 9 buat foto-foto dan nongkrong cantik. Semakin malam tempat ini semakin ramai. Untuk transportasi pulangnya kita menggunakan taxi yang sudah mangkal di depan Chocolate Ville dengan papan harga yang sudah ditetapkan. Dari Chocolate Ville ke MRT Lat Phrao dikenakan biaya taxi sebesar 300 Bath.
Lesson learned: Usahakan jangan bertanya dalam bahasa Inggris sama penduduk pribumi Thailand. Dijamin balesannya panjang lebar pake bahasa Thailand. Trus yang ada kalian bingung sendiri mau menyudahinya dengan terima kasih atau langsung melipir jauh dan tak kembali lagi. You may try lah kalau udah ke sana, hehe. Kalau kata pepatah malu bertanya sesat di jalan, kalau di Thailand, banyak bertanya menyesatkan.
Alhamdulillah, enggak sampai 10 menit kita udah berada di chatucak. Tapiiii.... permasalahan berikutnya muncul karena ongkos taxi hanya 30 Bath sedangkan uang terkecil yang kita punya satuan 500 Bath, dan supir taxi tidak punya kembaliannya, maka kita harus mencari tukarannya. Selagi ayah mencari tukaran uang, si supir tetap menunggu di mobil, saya dan anak-anak menunggu di trotoar jalan. Tanpa sepengetahuan saya ternyata supir tersebut udah pergi, waktu ayah balik yang ada kita bingung kemana taxinya pergi. Mungkin dia udah kelamaan nunggu ayah dan karena nilainya juga gak material makanya dia langsung pergi ajaa.. Apapun itu, terima kasih pak supir semoga rezekimu bertambah.
Sesampainya di Chatuchak udah jam 2-an, anak-anak mulai resah. Akhirnya kita putuskan untuk mencari makan siang dan langsung check in hotel karena anak-anak kelihatan udah capek. Satu kegiatan tercoret dari itinerary,,, yaitu shopping..hiks... Padahal ini keinginan emaknya banget, tapi gak mungkin dipaksakan takutnya nanti anak-anak kelelahan malah sakit makin berabe jadinya. Paling enggak kita udah tau gambaran chatuchak itu seperti apa.
Kita makan siang di Saman Islam, karena rumah makan ini banyak direkomendasikan oleh para blogger untuk wisatawan muslim. Lokasinya ada di section 16, sebagai patokannya tinggal cari menara jam (clock tower) satu-satunya yang ada di kompleks ini. Section 16 ini tepat berada di depan clock tower, kemudian berjalanlah masuk ke lorong tersebut. Di sebelah kiri terdapat plang Saman Islam, disitulah restoran ini berada. Kalau masih bingung disebelah clock tower ada tourist information coba tanya aja disitu. Tempatnya seperti warung terbuka dan menu yang ditawarkan disini sangat beragam. Mulai dari Tom Yum, Buryane, Noodle Soup, Fried Rice, Bakso, hingga Manggo Sticky Rice tersedia di tempat ini. Untuk memudahkan memilih makanan, tersedia foto makanan dengan nomor urut, yang tinggal kita bilang saja mau pesan nomor berapa.
![]() |
| Foto diambil dari google |
Menu yang kami pesan hanya 2 saja, karena menurut review yang ada porsi makanannya besar-besar, satu porsi bisa untuk 2 bahkan 3 orang. Suami pesan tom yum dan saya pesan Noodle Soup agar bisa dimakan anak-anak. Harga yang dibandrol untuk satu mangkuk noodle soup di Saman Islam adalah 150 THB. Agak mahal menurut saya tapi mengingat porsi yang diberikan luar biasa, dengan harga segitu masih bisa diterima akal.
Setelah makan siang kita langsung menuju hotel supaya anak-anak bisa istirahat. Untuk hari pertama ini kita memilih menginap di My Bed Ratchada Hotel dengan beberapa pertimbangan. Pertama : lokasi hotel ini hanya 50 meter dari stasiun MRT Lat Phrao (jadi gak perlu mengeluarkan ekstra tenaga untuk bawa-bawa koper dan kawan-kawannya), kedua : untuk menuju hotel kita dapat menggunakan sarana transportasi MRT yang telah terkoneksi dengan pasar chatuchak (coz kita geraknya dari pasar chatucak) dan jaraknya hanya beda 3 stasiun dari stasiun MRT Kampung Phaet yang ada di Chatuchak, ketiga : tujuan kita malam itu adalah Chocolate Ville, menurut informasi yang saya kumpulkan Chocolate Ville letaknya jauh dari pusat kota Bangkok dan tidak ada transportasi terdekat BTS Skytrain atau MRT Subway yang langsung menuju kesana, semua perjalanan harus menggunakan taxi. Kalaupun menggunakan taxi disarankan naik dari MRT Lat Phrao karena jaraknya tidak terlalu jauh.
Energi anak-anak uda direcharge, saatnya kita melanjutkan perjalanan. Untuk sampai ke Chocolate Ville kita menggunakan aplikasi grab taxi dengan tarif 278 Bath. Awalnya sempat ragu akan kendala bahasa seperti kejadian di terminal siang tadi, tapi bismillah ajalah. Untungnya setelah saya tekan menu order, supirnya langsung japri dengan bahasa Inggris kalau dia menunggu di jalan belakang hotel. Coba kalau supirnya komunikasi langsung via telpon, bisa-bisa terjadi lost in translation lagi.
Awal nya saya mikir tempat ini adalah tempat nongkrong / restauran / tempat makan yang dominan menu nya adalah COKLAT tapi ternyata sama sekali ga ada unsur coklatnya. Chocolate Ville ini konsepnya Dining In The Park bergaya Eropa, begitu pula semua restorannya rata-rata menyediakan menu ala western. Untuk harganya sendiri memang agak sedikit mahal tetapi sebandinglah dengan suasana yang kita dapatkan.
Apakah Chocolate Ville halal? Sepertinya tidak karena dalam daftar menu ada juga menu porknya. Tapi pas kita baru duduk, waitressnya langsung bilang no pork, no pork, dan menyerahkan menu vegetarian kepada kami, mungkin karena lihat saya pakai hijab kali ya.. Untuk lebih amannya kami hanya pesen air kelapa dan jus jeruk. Oh ya sebenarnya gak beli makanannya pun gak apa-apa. Cuma datang dan foto kemudian pergi lagi pun memungkinkan karena Chocolate Ville ini lumayan luas jadi tidak ada yang memperhatikan. Kecuali kalau sudah duduk di meja-mejanya pasti disamperin sama waiter/waitress nya.
Dari saat pertama masuk, kita merasa tidak sedang berada di Thailand. Ada banyak bangunan tematik disini, mulai dari Village Post Office, pom bensin, danau buatan, kincir angin, gudang anggur, gazebo, mobil kuno, mercusuar, jembatan, box telepon umum, rumah boneka, dan huruf-huruf yang bertuliskan LOVE. Semua sudut sangat fotogenik, sehingga bagi penggemar fotography atau pencinta selfie pasti akan sibuk mengabadikan gambar disini.
Untuk masuk ke chocolate ville ini tidak dipungut bayaran alias gratis, karena konsepnya adalah sebuah tempat makan. Kalau mau hemat gak pake acara makan ataupun minum kita bisa duduk di beberapa spot yang disediakan.
Waktu terbaik mengunjungi tempat ini adalah di atas jam 5 sore karena begitu lampu-lampu nya di nyalakan, nuansa romantisnya langsung berasa. Kita pulang sekitar jam 9 malam, lumayanlah dari jam 7 sampai jam 9 buat foto-foto dan nongkrong cantik. Semakin malam tempat ini semakin ramai. Untuk transportasi pulangnya kita menggunakan taxi yang sudah mangkal di depan Chocolate Ville dengan papan harga yang sudah ditetapkan. Dari Chocolate Ville ke MRT Lat Phrao dikenakan biaya taxi sebesar 300 Bath.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar